Bagaimana Kronologi Pemecatan Pochettino, Apa yang Salah? Ini Jawabannya

Bagaimana Kronologi Pemecatan Pochettino, Apa yang Salah? Ini Jawabannya

Tottenham merancang pernyataan yang mengagetkan pada Rabu (20/11/2019) dini hari tadi. Mereka mengetahui bahwa sang pelatih, Mauricio Pochettino, telah dipecat.
Pochettino pergi dari Tottenham dalam hati yang cukup mengenaskan. klub berjuluk the Lilywhites itu sekarang menempati peringkat ke-14 di Ajang Premier League dan baru menang tiga kali dari 12 pertandingan.
Pemecatan ini sekaligus mengakhiri perjalanan Pochettino di Spurs yang telah berjalan selama lima setengah tahun. Pria asal Argentina itu tak pernah memberikan trofi, namun prestasinya mengantarkan Tottenham mencapai final Liga Champions tak bisa dilupakan.
Dalam pernyataannya, Daniel Levy selaku pimpinan klub berkata: “Ini ukan keputusan yang diambil manajemen secara sembarangan, atau terburu-buru. Hasil di ajang domestik pada akhir musim lalu dan awal musim ini sangat mengecewakan,” tuturnya, dikutip dari Express.
Baca Juga : Jenis Permainan Dalam Judi Poker Casino Online
Apa yang salah dengan Tottenham? Bagaimana bisa sosok yang dianggap sebagai salah satu pelatih hebat di dunia itu dipecat? Express coba menjelaskan bagaimana pria asal Argentina itu didepak dari Tottenham Hotspur Stadium.

Mei 2019 – Sebelum Melawan Ajax

Sebelum Tottenham melakukan ‘comeback’ fenomenal di markas Ajax pada babak semifinal Liga Champions, Pochettino mengakui bahwa dirinya bisa meninggalkan klub jika berhasil mencapai final dan menjadi juara.

“Ini bisa jadi hal yang fantastis, bukan? Menutup perjalanan lima tahun dan pulang,” ujarnya dalam konferensi pers menjelang laga.

“Ini bukan lelucon. Kenapa? Memenangkan Liga Champions dalam situasi ini, pada musim ini, mungkin saya harus berpikir sedikit soal sesuatu yang berbeda di masa depan.”

“Karena untuk mengulangi keajaiban, anda tahu… Tapi yang pasti, saya akan pulang. Apapun yang akan terjadi besok, saya akan pulang,” tutupnya.

Juni – Kekalahan di Liga Champions

Tottenham berhasil mencapai final berkat hat-trick Lucas Moura di Amsterdam. Namun mereka gagal menjadi juara setelah kalah dari rivalnya di Premier league, Liverpool.

Setelah pertandingan, Pochettino berbicara soal masa depannya. “Saya pikir ini bukan waktu yang tepat untuk bicara terlalu banyak, karena anda bisa mengintepretasikannya dengan cara berbeda.”

“Untuk sekarang saya tetap tenang dan mulai mengubah mood, mengubah pola pikir kami. Yang pastik, kami akan mendapatkan waktu untuk berbicara,” lanjutnya.

Juli – Pasca Kekalahan

Pochettino ternyata meraskaan kesedihan yang mendalam usai mengalami kegagalan di final Liga Champions. Ia mengakuinya kala menghadiri interview pertamanya usai final pada bulan Juli lalu.

Kepada Daily Mail, Pochettino berkata: “Ya, rasanya sulit. Tiga pekan untuk persiapan adalah hal yang luar biasa dan setelahnya anda merasa kekecewaan yang mendalam dengan cara kekalahan anda.”

“Mereka harus pulang – saya menggunakan kereta dari Madrid ke Barcelona sehari setelahnya. Saya menghabiskan waktu 10 hari di dalam rumah dan tak ingin keluar. Rasanya sangat berat karena kami nyaris menyentuh kejayaan,” katanya.

Masalah Transfer

Pochettino membuat publik mengernyitkan dahi dengan kata-katanya pada bulan yang sama. Ia menegaskan bahwa dirinya tak memiliki andil dalam aktivitas transfer yang dilakukan oleh klub.

“Saya tak tahu apa-apa soal situasi pemain saya. Benar bahwa ‘manajer’ adalah sebuah kata yang mempunyai arti berbeda dari pelatih kepala.”

“Mungkin saya selalu menjadi seorang manajer sejak hari pertama saya tiba di sini – dan mungkin itu menjelaskan tugas saya dengan lebih baik,” ungkapnya.

Agustus – Pertanda Masalah

Laga ke-500 dalam karir Pochettino menjadi pertanda masalah pertama untuk Spurs.

Pada bulan Agustus, Totteham sukses mengalahkan Aston Villa dan sang juara bertahan, Manchester City. Tapi beberapa hari berselang, mereka malah membuat kejutan dengan kekalahan atas Newcastle United.

Spurs kalah dari Newcastle United karena kurangnya kreativitas. Mereka tak mampu membongkar pertahanan the Magpies. Dan klub besutan Steve Bruce itu berhasil mendapatkan poin pertamanya berkat akis dari Joelinton.

September – Tottenham Semakin Terpuruk

Kemenangan 4-0 atas Crystal Palace menjadi penanda bahwa Spurs sudah kembali normal. Namun hasil imbang 2-2 kontra Olympiacos membuat mereka sudah membuang-buang poin setelah unggul dua gol lebih dulu dalam satu pertandingan.

Torehan buruk itu kemudian berlanjut ke pertandingan kontra Leicester. Mereka menelan kekalahan dengan skor 1-2 meskipun sempat unggul lebih dulu melalui gol Harry Kane.

Tak lama setelahnya, Tottenham meraih hasil yang memalukan saat bertemu klub League Two, Colchester United, di ajang Carabao Cup. Mereka tumbang meskipun memainkan sejumlah pemain penting seperti Son Heung-Min, Dele Alli, hingga Christian Eriksen.

Oktober – Dibantai Munchen, Dipermak Brighton

Di ajang Liga Champions, Tottenham secara mengejutkan tumbang dengan skor telak 2-7 atas Bayern Munchen. Lagi-lagi, mereka kalah dalam kondisi sedang unggul 2-1 hingga jeda babak pertama.

Masa-masa buruk Spurs berlanjut. Beberapa hari setelah dibantai Munchen, mereka lalu dipermak oleh Brighton di ajang Premier League dengan skor telak 0-3.

Situasinya kian buruk setelah sang kiper andalan, Hugo Lloris, mengalami cedera parah. Operasi dibutuhkan untuk memulihkan cederanya dan kiper asal Prancis itupun harus absen hingga bulan Januari mendatang.

November – Akhir Perjalanan

Tottenham mengalami inkonsistensi permainan di bulan ini. Semua diawali oleh hasil imbang kontra Watford, kemudian menang atas Red Star Belgrade di Serbia – bukan perkara mudah, sebab Liverpool pernah kalah di tempat yang sama musim lalu.

Cedera horor pemain Everton, Andre Gomes, menjadi salah satu penghias torehan buruk Tottenham di bulan ini. Seperti yang diketahui, pemain asal Portugal itu mengalami cedera parah usai berjibaku dengan Son Heung-Min.

Tottenham kembali menuai kemenangan saat bertemu untuk kedua kalinya dengan Red Star Belgrade. Namun hasil itu tak berlanjut kala menghadapi Sheffield United, di mana mereka lagi-lagi gagal meraih kemenangan setelah sempat unggul lebih dulu.

Ketok Palu

Pochettino dan Daniel Levy mengagendakan pertemuan pada pekan kedua dalam jeda internasional bulan November ini. Agendanya tidak lain dan tak bukan adalah soal masa depan Pochettino di Spurs.

Lalu, pada Rabu (20/11/2019) dini hari tadi, Tottenham merilis pernyataan yang mengejutkan. Mereka mengumumkan bahwa Pochettino telah dipecat.

Pochettino meninggalkan Tottenham setelah melalui 293 laga. Ia memiliki presentase kemenangan sebesar 54 persen, dengan rincian 159 kali menang, 62 kali imbang, dan 72 kali kalah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here